Rp80.000
Bagaimana tentara gerilya berubah menjadi militer negara yang profesional tanpa kehilangan jejak sejarahnya? Buku ini menelusuri transformasi FALINTIL menjadi F-FDTL sebagai proses sosial, historis, dan politis yang penuh negosiasi makna. Militer dipahami bukan sekadar institusi bersenjata, melainkan ruang pertemuan antara memori perjuangan, identitas kolektif, norma demokrasi, dan tuntutan negara modern. Profesionalisme tidak lahir dari peniruan model luar, tetapi dari perjumpaan antara warisan gerilya, reformasi sektor keamanan, dan realitas Timor-Leste sebagai negara kecil pascakonflik yang terus membangun dirinya.
Melalui pendekatan sosiologi militer, buku ini menawarkan gagasan profesionalisme militer hibrid—profesionalisme yang tumbuh dari krisis, pembelajaran, dan adaptasi bertahap. Ia menunjukkan bahwa profesionalisme bukan status akhir, melainkan proses berkelanjutan menata kekuatan agar tetap berada dalam batas legitimasi demokratis: dari “penjaga revolusi” menjadi “penjaga konstitusi”. Buku ini memberi kontribusi teoretik penting bagi kajian hubungan sipil–militer dan reformasi sektor keamanan, sekaligus memperlihatkan bahwa militer negara kecil pun dapat membangun profesionalisme normatif tanpa ambisi kekuatan besar—dengan menempatkan sejarah, hukum, dan masyarakat sebagai fondasi legitimasi masa depannya.
Kamu bisa beli buku ini via:
Kamu bisa beli buku ini via: